Pilarjateng.com, Semarang – Memasuki bulan Agustus, semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di berbagai daerah. Bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga berbagai ornamen kemerdekaan mulai menghiasi jalan, perkantoran, sekolah dan lingkungan permukiman.
Di balik semarak perayaan tersebut, masyarakat diharapkan tidak mengabaikan aspek keselamatan saat memasang bendera maupun umbul-umbul, terutama yang berada di dekat jaringan listrik.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jawa Tengah, Bramantyo Anggun Pambudi, mengingatkan bahwa ada aturan jarak aman (Right of Way) yang wajib dipatuhi demi keselamatan bersama.
“Jarak ideal keamanan suatu material seperti tiang bendera/umbul-umbul adalah 3 meter. Menjaga jarak ini untuk mencegah kejadian warga tersengat jaringan listrik/kesetrum,” tegas Bramantyo, Jumat (31/7).
Selain jarak, bahan tiang juga menjadi faktor penentu. PLN mengimbau masyarakat hanya menggunakan material non-konduktor seperti kayu atau bambu. Namun, Bramantyo juga memberi peringatan penting, nahwa bahan tersebut tetap bisa menjadi “perangkap” saat kondisi basah.
“Bahan non-konduktor yang basah bisa menghantarkan listrik dengan mudah sehingga meningkatkan potensi tersengat listrik. Kita bersyukur musim hujan sudah berlalu, namun tiang yang basah karena embun bahayanya juga meningkat,” ujarnya.
PLN mengajak peran aktif masyarakat, jika menemukan kondisi berbahaya seperti tiang umbul-umbul yang terlalu dekat, dahan pohon menyentuh kabel, atau layang-layang dan spanduk yang melilit jaringan listrik, untuk segera melapor.
Menurut Bramantyo, banyak saluran yang bisa digunakan. Diantaranya, warga dapat memanfaatkan aplikasi PLN Mobile melalui menu ‘pengaduan’ atau fitur ‘info jaringan kelistrikan’. Bisa juga menghubungi Contact Center 123, atau mengirim pesan langsung ke media sosial resmi @pln123_official.
“Mari rayakan kemerdekaan dengan aman. Kibarkan benderanya, kumandangkan lagu kebangsaan, tapi pastikan jarak Anda dengan kabel listrik tetap terjauh, karena semangat 17-an tidak akan berarti jika nyawa menjadi taruhannya,” pungkasnya.









