Pilarjateng.com, Semarang – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah terus memperkuat upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) melalui pemberdayaan masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Life Skill Pelatihan Barista bagi Masyarakat Kawasan Rawan Narkoba di Wilayah Jawa Tengah, yang dilaksanakan di Balai Kelurahan Rejosari, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, pada 14–16 Oktober 2026.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pembekalan keterampilan yang produktif dan legal. Tidak sekadar mempelajari teknik meracik dan menyajikan kopi, para peserta juga didorong untuk mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, serta membuka peluang kerja dan usaha sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.
Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Plt. Kepala BNNP Jawa Tengah, Brigjen Pol. Edi Swasono, menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat perlu diarahkan pada manfaat nyata dan keberlanjutan program. Masyarakat harus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri sekaligus memperoleh bekal keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Permasalahan narkoba tidak cukup ditangani hanya melalui penegakan hukum. Kita juga harus memperkuat upaya pencegahan dengan membangun masyarakat yang memiliki ketahanan sosial, keterampilan, serta kemandirian ekonomi,” tegasnya.
Melalui Bimbingan Teknis Life Skill Pelatihan Barista ini, BNNP Jawa Tengah ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi diri dan memperoleh keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang usaha maupun meningkatkan produktivitas.
Ia juga menjelaskan, bahwa pelatihan keterampilan harus menjadi awal dari proses pemberdayaan yang berkelanjutan. Karena itu, peserta diharapkan tidak berhenti pada tahap menerima materi dan peralatan, tetapi terus berlatih, menyusun rencana tindak lanjut, membangun jejaring, serta mengembangkan keterampilan sesuai peluang yang tersedia.
“Kami berharap para peserta dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, produktif, dan percaya diri dalam membangun masa depan yang lebih baik. Target Jawa Tengah Zero Prevalensi Narkotika Tahun 2045 tidak dapat diwujudkan oleh BNN sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat,” jelasnya.
“Semakin kuat masyarakat membangun lingkungan yang sehat, produktif, dan saling mendukung, semakin besar pula peluang kita untuk mengurangi kerentanan terhadap penyalahgunaan narkoba,” tambahnya.
Menurutnya, Zero Prevalensi Narkotika bukan sekadar target angka, melainkan cita-cita bersama untuk membangun masyarakat yang terlindungi dari ancaman narkoba, memiliki ketahanan keluarga yang kuat, serta mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, pulih, produktif, dan mandiri. Pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendukung terciptanya kondisi tersebut.
Dukungan terhadap upaya pemberdayaan masyarakat juga disampaikan oleh Camat Semarang Timur, Akbar Ali Nurdin, yang menegaskan bahwa sinergi dan kolaborasi sangat penting dalam mewujudkan kelurahan bersih dari narkoba. Kemudian, keterlibatan pemerintah kecamatan dinilai penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor sekaligus mendorong agar manfaat pelatihan dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
“Terima kasih BNNP Jawa Tengah, kami menyambut baik pelaksanaan Bimbingan Teknis Life Skill Pelatihan Barista bagi masyarakat di Kelurahan Rejosari. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha maupun bekal untuk memasuki dunia kerja. Pemberdayaan seperti ini penting karena pembangunan masyarakat tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga bagaimana meningkatkan kemampuan, kepercayaan diri, dan kemandirian warga agar mampu memperbaiki kualitas hidupnya,” ungkap Akbar.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus diasah dan dimanfaatkan sesuai potensi serta peluang yang tersedia, baik untuk bekerja, merintis usaha secara mandiri, maupun mengembangkan usaha bersama. Menurutnya, keberlanjutan program membutuhkan komunikasi dan kerja sama antara pemerintah wilayah, BNNP Jawa Tengah, pemerintah kelurahan, serta berbagai unsur masyarakat.
“Kami memandang upaya pemberdayaan masyarakat juga memiliki arti penting dalam membangun lingkungan yang lebih sehat dan tangguh terhadap ancaman narkoba. Ketika masyarakat memiliki kegiatan produktif, kesempatan untuk berkembang, serta dukungan lingkungan yang positif, fondasi ketahanan sosial akan semakin kuat,” imbuhnya.









