Atasi Ancaman Abrasi di Sayung, Pemprov Jateng Bangun Hybrid Sea Wall

Avatar photo

- Reporter

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembangunan hybrid sea wall atau tanggul pantai berbasis solusi alam (nature-based solution) di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Pembangunan hybrid sea wall atau tanggul pantai berbasis solusi alam (nature-based solution) di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Pilarjateng.com, Demak – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun hybrid sea wall atau tanggul pantai berbasis solusi alam (nature-based solution) di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Pembangunan tanggul sepanjang sekira 930 meter tersebut dilakukan, untuk mengurangi ancaman abrasi, gelombang laut, dan banjir rob.

Infrastruktur itu dirancang tidak hanya mengandalkan konstruksi beton, tetapi juga mendukung pertumbuhan mangrove sebagai pelindung alami kawasan pesisir. Selain menghadang air laut, hybrid sea wall juga akan mengurangi abrasi dan mengembalikan daratan dalam Jangka panjangnya.

Kepala Bidang Sungai, Bendungan, dan Pantai pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Jawa Tengah, Andis Setiyo Septiyantok mengatakan, pembangunan tersebut memiliki panjang total sekitar 930 meter. Pekerjaan meliputi bangunan utama sepanjang sekitar 700 meter, serta bangunan groin atau pemecah gelombang sepanjang lebih dari 200 meter. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 26 November 2026.

Baca Juga:  Kapolres Demak Resmikan Fasilitas Latihan Menembak Al Fath

“Bis-bis beton ini untuk menahan gelombang laut. Nanti di belakangnya akan ditumbuhi mangrove-mangrove, yang diharapkan bisa menahan gelombang laut, menahan abrasi, dan mengembalikan garis pantai atau tanah yang hilang,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, pendekatan hybrid sea wall menggabungkan perlindungan melalui konstruksi beton dengan pemulihan vegetasi pesisir. Beton berfungsi melindungi mangrove yang masih tumbuh agar dapat berkembang hingga besar, kemudian menjadi benteng alami untuk menghadapi gelombang laut.

Andis menjelaskan, keberadaan mangrove juga diharapkan membantu menahan dan menangkap sedimen, sehingga daratan pesisir yang terkikis dapat terbentuk kembali. Dalam jangka panjang, pembangunan itu ditujukan untuk mengurangi abrasi dan rob, sekaligus menahan laju air laut yang masuk ke daratan.

“Kalau mangrove saja yang ditanam, otomatis nanti tidak bisa sampai besar. Harapannya, ini sebagai pelindung agar mangrovenya bisa besar, kemudian menjadi pelindung alami terhadap pantai-pantai kita,” jelasnya.

Baca Juga:  OJK Gandeng Nasyiatul Aisyiyah, Cetak Duta Literasi Keuangan di Jateng

Untuk tahun ini, pembangunan hybrid sea wall baru menjangkau Desa Surodadi. Andis menyebut, desain penanganan kawasan tersebut secara keseluruhan mencapai sekitar 10 kilometer. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan usulan dan realisasi anggaran.

“Harapannya bisa dibangun secara menyeluruh, agar menjadi solusi terkait abrasi di sini,” terangnya.

Sementara, Kepala Desa Surodadi, Supriyanto, menyambut baik pembangunan tersebut. Dia mengatakan, pemerintah desa bersama masyarakat mendukung pelaksanaan proyek, termasuk membantu kelancaran pekerjaan dan distribusi material di lokasi.

Namun, Supriyanto berharap, pembangunan tidak berhenti pada tahap yang saat ini dikerjakan. Menurutnya, jarak kawasan yang perlu dilindungi di wilayah desanya mencapai sekitar dua kilometer, sehingga penanganan sepanjang kurang lebih 930 meter, belum mencakup seluruh kawasan yang membutuhkan perlindungan.

Baca Juga:  Terlibat Pelanggaran Pasar Modal, OJK Jatuhkan Denda Rp2,1 Triliun kepada DSSA, BREN, dan CUAN

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan ini. Harapan kami, pembangunan hybrid sea wall dilanjutkan, karena sangat membantu mengurangi abrasi, paling tidak agar kami tetap bisa bertahan dengan baik seperti dulu,” kata Supriyanto.

Dia menjelaskan, abrasi menjadi persoalan serius di kawasan pesisir Demak. Selain Sayung, wilayah pesisir Kecamatan Karangtengah, Bonang, dan Wedung juga menghadapi persoalan serupa.

“Kami berharap penanganan abrasi dilakukan secara menyeluruh, agar perlindungan di satu kawasan tidak membuat wilayah pesisir lain luput dari perhatian,” harapnya.

Supriyanto menambahkan, upaya perlindungan pesisir perlu disertai keterlibatan masyarakat dalam penanaman dan perawatan mangrove. Pemerintah desa, kata dia, siap mengajak warga melakukan mitigasi secara berkelanjutan, untuk memperkuat perlindungan kawasan pesisir Desa Surodadi.

“Kami mengajak semua masyarakat untuk bersama-sama mengatasi persoalan ini,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel pilarjateng.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OJK Perkuat Stabilitas dan Integritas Pasar Modal Melalui Tiga Langkah Stategis
Cek Kesiapan Personel, Polres Wonosobo Gelar Apel Operasi Patuh Candi 2026
Tekan Angka Kecelakaan, Polres Demak Gelar Operasi Patuh Candi
OJK Jatuhkan Denda RP2,52 Triliun Terhadap Pelaku Pelanggaran Pasar Modal
Wakapolres Demak Pimpin Jumat Keliling, Perkuat Kedekatan Polisi dengan Masyarakat
Menteri Hukum Tutup Kongres XXIV INI, Tekankan Transformasi Digital dan Integritas Notaris
Pasti Ada Solusi Episode 22 Digelar di Semarang, Menkum: Kementerian Hukum Hadir sebagai Pelayan Masyarakat
OJK Perkuat Reformasi Pasar Modal, Jaga Kepercayaan Investor

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 01:02 WIB

OJK Perkuat Stabilitas dan Integritas Pasar Modal Melalui Tiga Langkah Stategis

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:41 WIB

Cek Kesiapan Personel, Polres Wonosobo Gelar Apel Operasi Patuh Candi 2026

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Tekan Angka Kecelakaan, Polres Demak Gelar Operasi Patuh Candi

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:24 WIB

OJK Jatuhkan Denda RP2,52 Triliun Terhadap Pelaku Pelanggaran Pasar Modal

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:50 WIB

Wakapolres Demak Pimpin Jumat Keliling, Perkuat Kedekatan Polisi dengan Masyarakat

Berita Terbaru