Pilarjateng.com, Wonosobo – Lingkungan pendidikan terutama para guru memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai, bahasa, serta pengetahuan budaya melalui metode yang adaptif dan kreatif. Selain itu, dengan perkembangan teknologi dan perubahan pola belajar generasi muda juga dituntut adanya pendekatan baru dalam mengenalkan budaya yang lebih inklusif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Wonosobo, Musofa, saat membuka kegiatan Implementasi Kongres Kebudayaan Jawa III Kabupaten Wonosobo Tahun 2025, di Pendopo Selatan, Senin (17/11/2025).
Musofa menjelaskan, Kongres Kebudayaan Jawa III menghasilkan berbagai arahan strategis yang harus ditindaklanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan. Dimana, pelestarian, penyebaran, dan inovasi budaya Jawa harus berjalan beriringan melalui langkah-langkah yang relevan dengan perkembangan dunia pendidikan saat ini.
“Beberapa arah kebijakan penting antara lain Penguatan bahasa dan sastra Jawa. Peningkatan dokumentasi budaya melalui media modern, pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran,” ungkapnya.
Terkait pengajuan Aksara Jawa ke UNESCO, menurutnya perlu adanya dukungan akademik dan dokumentasi yang kuat, sehingga peran guru menjadi sangat penting dalam menumbuhkan pemahaman dan apresiasi siswa terhadap aksara serta budaya Jawa.
Musofa berharap kegiatan ini dapat menerjemahkan arahan kongres ke langkah nyata di sekolah-sekolah, di antaranya melalui model pembelajaran yang memperkaya literasi budaya, memberi ruang kreativitas bagi siswa, serta mendukung dokumentasi budaya menggunakan media digital.
“Pelestarian budaya perlu disajikan secara kreatif, dekat dengan keseharian generasi muda, dan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Saya mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kegiatan ini sebagai ruang refleksi, kolaborasi, dan inovasi,” ungkapnya.
Ketua MGMP Bahasa Jawa SMA Kabupaten Wonosobo, Triana Kanthi Wati, dalam laporannya menyampaikan bahwa Kongres Kebudayaan Jawa III telah menghasilkan banyak rekomendasi mengenai pelestarian, pengembangan, serta pemanfaatan budaya, sastra, bahasa, dan aksara Jawa. Menurutnya, guru sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan siswa tiap hari, memiliki posisi kuat untuk melestarikan budaya tersebut secara berkelanjutan.
Triana juga menjelaskan kegiatan ini diikuti 50 guru dari SMP, SMA, dan SMK, sebagai bukti bahwa semangat melestarikan budaya Jawa tetap tinggi.
“Hari ini kita belajar bersama, berdiskusi, dan menyusun strategi agar kebudayaan terasa menarik dan bermanfaat bagi generasi Z. Semangat ini membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak akan pernah surut,” tegasnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Wonosobo dan seluruh pihak yang memfasilitasi terlaksananya kegiatan tersebut.
Perwakilan Dinas Kebudayaan DIY, Setya Amrih Prasaja menambahkan, kegiatan dua hari yang berisi diskusi dan pelatihan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi implementatif untuk memperkuat pembelajaran budaya di sekolah.
“Kami berharap kegiatan ini dapat melahirkan strategi pengajaran budaya yang relevan, inovatif, dan mudah diterapkan oleh para guru di kelas,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Wonosobo berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antar-guru, antar-sekolah, dan dengan berbagai lembaga kebudayaan. Selain memperkuat identitas budaya di tingkat lokal, langkah ini juga menjadi bagian dari kontribusi Wonosobo dalam menyongsong Kongres Kebudayaan Jawa IV di Jawa Tengah.
“ini menjadi momentum penting untuk melahirkan program dan tindakan nyata yang dapat diterapkan di setiap satuan pendidikan, sehingga budaya Jawa tetap hidup melalui pembelajaran yang menarik, relevan, dan penuh kreativitas,” pungkasnya.









