Pilarjateng.com, Wonosobo – Semangat persatuan, pelestarian budaya, dan pengabdian kepada daerah berpadu dalam Prosesi Pisowanan Agung yang menjadi puncak peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo di Pendopo Kabupaten dan Alun-alun Wonosobo, Jumat (24/7/2026). Mengusung tema “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”, prosesi tersebut tidak sekadar perayaan hari lahir daerah, tetapi juga momentum memperteguh jati diri masyarakat Wonosobo melalui nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan kebersamaan yang diwariskan para leluhur.
Pisowanan Agung menjadi penutup dari rangkaian prosesi adat Hari Jadi ke-201 yang sebelumnya diawali dengan Bedhol Kedhaton, dilanjutkan Tapa Bisu, Hastungkara Ujubing Umbul Donga, dan Birat Sengkala. Keseluruhan prosesi tersebut menggambarkan perjalanan batin masyarakat Wonosobo dalam mengenang sejarah, memanjatkan doa, memperkuat persatuan, hingga meneguhkan ikhtiar bersama demi masa depan daerah.
Dalam sambutannya, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan, Hari Jadi Kabupaten Wonosobo bukan sekadar mengenang perjalanan sejarah yang telah dilalui selama lebih dari dua abad, tetapi menjadi ruang refleksi untuk melanjutkan semangat perjuangan para pendahulu dalam membangun daerah.
“Wonosobo lahir dari sejarah panjang perjuangan para leluhur. Perjalanan lebih dari dua abad ini menjadi teladan tentang pengabdian, pengorbanan, serta optimisme dalam membangun masa depan. Karena itu, Hari Jadi bukan sekadar penanda waktu, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali jati diri dan semangat kebersamaan dalam membangun Wonosobo,” ujar Afif.
Menurutnya, tema “Nyawiji Makarti” memiliki makna menyatukan seluruh potensi, energi, dan ikhtiar masyarakat agar menjadi kekuatan bersama dalam menghadirkan pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Alhamdulillah, meskipun peringatan Hari Jadi tahun ini dilaksanakan dengan sederhana sebagai bagian dari kebijakan efisiensi, namun antusiasme masyarakat luar biasa. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat ingin pemerintah terus hadir bersama mereka. Saatnya seluruh energi kita disatukan untuk menghadirkan kebijakan yang berdampak bagi masyarakat Kabupaten Wonosobo,” tegasnya.
Afif juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memandang pembangunan secara utuh, bukan dari kepentingan yang sempit, sehingga semangat gotong royong dapat terus menjadi fondasi dalam mewujudkan Wonosobo yang maju, adil, dan sejahtera.
Prosesi Pisowanan Agung diawali dengan pengembalian Panji-panji Daerah oleh perwakilan masyarakat kepada Bupati Wonosobo bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Pengembalian panji tersebut menjadi simbol bersatunya kembali pemerintah dan masyarakat dalam satu tekad membangun daerah.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Birat Sengkala, yaitu ritual memercikkan air yang berasal dari tujuh sumber mata air ke empat penjuru mata angin. Ritual ini merupakan simbol permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Wonosobo senantiasa dilimpahi keselamatan, kedamaian, kemakmuran, serta dijauhkan dari berbagai mara bahayayang dapat mengganggu kehidupan masyarakat maupun pembangunan daerah.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat menjelaskan, setiap prosesi dalam Hari Jadi memiliki filosofi yang saling berkaitan dan membentuk satu rangkaian utuh.
“Pisowanan Agung merupakan puncak dari seluruh rangkaian Hari Jadi. Pengembalian Panji-panji Daerah melambangkan persatuan antara pemerintah dan masyarakat. Birat Sengkala menjadi ikhtiar spiritual memohon perlindungan dan kesejahteraan bagi Wonosobo, kemudiandilanjutkan Kembul Bujana dan Grebeg Gunungan Sayur sebagai simbol rasa syukur sekaligus berbagi berkah kepadamasyarakat,” jelas Fahmi.









