Pilarjateng.com, Semarang – Petani cengkeh di Desa Lempuyang, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang kini mendapatkan solusi baru untuk mengatasi kendala pengeringan cengkeh saat musim hujan. Selama ini, proses pengeringan yang masih mengandalkan sinar matahari sering terhambat cuaca, sehingga menurunkan kualitas cengkeh dan mengurangi hasil produksi.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Politeknik Negeri Semarang menghadirkan Alat Pengering Cengkeh Otomatis Berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi ini memungkinkan proses pengeringan berlangsung lebih stabil serta dapat dikontrol dan dipantau melalui aplikasi Telegram.
Ketua tim pengabdian, Khamami, menjelaskan, alat ini dirancang sesuai kebutuhan petani, khususnya dalam menjaga suhu dan kelembapan selama pengeringan. Melalui sistem IoT, petani bisa memantau kondisi alat secara real-time sehingga kadar air cengkeh tetap berada di angka ideal, yakni 14 persen.
“Dengan pengaturan suhu dan kelembapan yang tepat, kualitas cengkeh dapat dipertahankan dan proses pengeringan menjadi lebih cepat,” ujarnya dalam kegiatan serah terima alat, Agustus (26/8).
Kegiatan tersebut melibatkan 10 anggota tim pengabdian serta tiga mahasiswa yang ikut memberi pendampingan kepada mitra.
Ngudiyono, Ketua Pengelola Perkebunan Cengkeh Desa Lempuyang, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan alat tersebut. Menurutnya, inovasi teknologi ini membawa dampak langsung terhadap efisiensi kerja dan peningkatan mutu hasil panen.
“Kami sangat terbantu. Sekarang pengeringan tidak lagi tergantung matahari. Waktunya lebih cepat dan kualitas lebih bagus,” ucapnya.
Dengan hadirnya alat pengering berbasis IoT ini, petani di Desa Lempuyang diharapkan dapat meningkatkan daya saing komoditas cengkeh, sekaligus memperkuat posisi desa sebagai salah satu sentra produksi cengkeh di Kabupaten Semarang.









