Pilarjateng.com, Semarang: Otoritas Jasa Keuangan(OJK) Jateng menilai kondisi sektor jasa keuangan di provinsi ini dalam kondisi stabil. Hingga September 2024 atau triwulan III 2024, sektor ini didukung dengan likuiditas yang memadai dan tingkat risiko yang terjaga.
Kepala OJK Jateng, Sumarjono menyampaikan, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 6,66 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 468,15 triliun. Adapun kredit yang disalurkan tumbuh sebesar 5,35 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 422,25 triliun dengan risiko kredit sebesar 5,68 persen.
“DPK Bank Umum di Jateng tercatat tumbuh sebesar Rp 428,49 triliun atau sebesar 7,00 persen (yoy). Total Kredit Bank Umum di Jateng mencapai Rp 384,07 triliun tumbuh sebesar 5,91 persen (yoy),” ucapnya dalam keterangan tertulis, Selasa (26/11/2024).
Lebih lanjut dijelaskan, bahwa Non Performing Loan(NPL) terjaga sebesar 4,71 persen. Kinerja intermediasi Bank Umum di Jateng terjaga dengan total Loan to Deposit Ratio(LDR) 89,63 persen.
“Selanjutnya, DPK BPR/S tumbuh sebesar 3,18 persen (yoy) sebesar Rp 39,66 triliun. Total kredit BPR/S naik 0,03 persen (yoy) dan DPK tumbuh 11,49 persen (yoy),” ujar Sumarjono.
Sementara, pembiayaan yang disalurkan tumbuh sebesar 13,97 persen (yoy). Nominalnya mencapai Rp 32,02 triliun dengan rasio NPF 5,38 persen.
Kemudian, pada sektor Industri Keuangan Non Bank(IKNB), perusahaan pembiayaan mencatatkan peningkatan nilai piutang pembiayaan sebesar 8,69 persen(yoy). Nilainya mencapai Rp 34,29 triliun dengan NPF sebesar 2,86 persen.
“Meski demikian, modal ventura di Jateng mengalami penurunan penyaluran sebesar 9,20 persen yoy dengan nominal Rp 1,02 triliun. Selanjutnya, aset dana pensiun di Jateng tumbuh sebesar 4,57 persen (yoy) mencapai Rp 6,87 triliun,” pungkas Sumarjono.









