Pilarjateng.com, Rembang – Museum RA Kartini Rembang per Kamis ini sampai 17 Agustus mendatang ditutup, tidak bisa dikunjungi karena proses fumigasi. Proses tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya perawatan dan pelestarian koleksi serta bangunan museum agar tetap terjaga dari potensi kerusakan akibat hama.
Penutupan sementara ini dilakukan untuk memastikan proses fumigasi berjalan optimal, sekaligus menjaga keamanan pengunjung maupun petugas. Pasalnya selama proses fumigas berlangsung sangat berbahaya bagi makhluk hidup.
“Ini perawatan rutin untuk pengelolaan koleksi maupun bangunannya agar terhindar dari fumigan, atau hama yang bisa mengakibatkan kerusakan koleksi museum,” tutur Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, Retna Dyah Radityawati, Kamis (13/8).
“Meski demikian, masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat Museum RA Kartini Rembang tidak perlu khawatir. Kunjungan tetap dapat dilakukan secara virtual melalui laman museumkartinirembang.id,” imbuhnya.
Melalui layanan virtual tersebut, lanjut
Retna, masyarakat dapat mengakses informasi mengenai Museum RA Kartini Rembang dan berbagai koleksi yang tersedia tanpa harus datang langsung ke lokasi.
“kunjungan virtual 360 derajat itu lengkap ada infonya. melalui layanan virtual itu juga mendukung peningkatan kunjungan wisata kita, membuat rasa penasaran,” ujarnya.
Manajer Operasional PT. Indo Matra Fumiga, Maghfur menjelaskan, di hari pertama ini petugas melakukan tahap Penyuntikan obat anti rayap. Selanjutnya tim membuat museum menjadi kedap udara, sebelum proses fumigasi.
“Setelah pengeboran kita suntikkan larutan anti rayap. Selanjutnya tahap penyegelan, kita ciptakan ruang kedap udara dulu, kita tutup rapat, pintu, jedela dan lainnya, baru besok fumigasi,” jelaanya.
Setelah proses fumigasi dan perawatan selesai, Museum RA Kartini Rembang akan kembali dibuka tanggal 18 Agustus untuk kunjungan secara langsung. Dengan perawatan yang dilakukan secara berkala, keberadaan Museum RA Kartini Rembang diharapkan tetap menjadi ruang edukasi dan pelestarian sejarah bagi generasi saat ini maupun mendatang.









