Pilarjateng.com, Demak – Di Kabupaten Demak tahun 2024 tercatat ada 65 kasus leptospirosis yang mengakibatkan 5 orang meninggal dunia. Dengan demikian kasus leptospirosis di Demak mengalami kenaikan kasus meskipun jumlah korban meninggal turun.
“Leptospirosis merupakan salah satu zoonosis yang ditularkan melalui kencing tikus yang erat hubungannya dengan sanitasi lingkungan masyarakat,” ujar Kepala bidang Pencegahan dan pengendalian penyakit (P2KB) Dinkes Demak, Hery Winarno, Selasa (31/12).
“Data tahun 2022 jumlah penderita 42 orang meninggal 13 orang. Sedangkan data tahun 2023, jumlah penderita sebanyak 53 orang, meninggal dunia 6 orang,” imbuhnya.
Sementara di tahun 2024, lanjut Hery sebanyak 5 orang meninggal, yaitu dari wilayah Puskesmas Bonang 1 (1 orang), Puskesmas Mranggen 1 (1 orang), Puskesmas Wonosalam 2 (1 orang) dan wilayah Puskesmas Karangawen 2 (2 orang).
Dijelaskan pula, bahwa Kabupaten Demak merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki kasus leptospirosis yang disertai dengan angka kematian, yang hampir setiap tahunnya terjadi di 12 Kecamatan.
“Adapun penularan penyakit tersebut ke manusia, akibat kontak dengan tanah dan air (air buangan kamar mandi, air sungai dan air tanah) yang telah tercemar bakteri leptospirosis dari kencing tikus,” pungkas Hery.









