Bappenas Dorong Pengembangan SAEEC dan DAS Serayu, Wonosobo Siapkan Proyek Terpadu Berbasis Energi, Pangan, Air, dan Pariwisata

Avatar photo

- Reporter

Sabtu, 12 September 2026 - 11:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kunjungan kerja Perencana Ahli Utama (PAU) Kementerian PPN/Bappenas dalam rangka pembahasan Serayu Agro Energy Edutourism Corridor (SAEEC),  sekaligus inisiasi pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Serayu, di Ruang Mangunkusuma, Wonosobo, Jumat (11/9/2026).

Kunjungan kerja Perencana Ahli Utama (PAU) Kementerian PPN/Bappenas dalam rangka pembahasan Serayu Agro Energy Edutourism Corridor (SAEEC),  sekaligus inisiasi pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Serayu, di Ruang Mangunkusuma, Wonosobo, Jumat (11/9/2026).

Pilarjateng.com, Wonosobo – Pemerintah Kabupaten Wonosobo konsisten mendorong pengembangan kawasan Serayu sebagai ekosistem pembangunan terpadu yang menghubungkan potensi energi, pertanian, air, lingkungan, pendidikan, dan pariwisata. Gagasan tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja Perencana Ahli Utama (PAU) Kementerian PPN/Bappenas dalam rangka pembahasan Serayu Agro Energy Edutourism Corridor (SAEEC),  sekaligus inisiasi pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Serayu, di Ruang Mangunkusuma, Wonosobo, Jumat (11/9/2026).

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat dalam sambutannya menyampaikan bahwa kunjungan Kementerian PPN/Bappenas menjadi momentum penting untuk membawa gagasan pengembangan Serayu ke tahap yang lebih konkret, terukur, dan dapat ditindaklanjuti.

Menurutnya, kehadiran Bappenas menjadi kesempatan untuk bersama-sama melihat potensi apa yang dapat dikembangkan, manfaat yang dapat dihasilkan bagi masyarakat, serta dukungan kebijakan dan pembiayaan yang diperlukan agar gagasan tersebut benar-benar dapat diwujudkan.

Afif menjelaskan, pengembangan Serayu telah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Wonosobo sejak audiensi dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas pada 28 April 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Pemkab Wonosobo menyampaikan peluang pengembangan Serayu Agro Energy Edutourism Corridor (SAEEC) sebagai model pengembangan kawasan yang mengintegrasikan potensi alam, ekonomi, energi, pangan, pendidikan, dan pariwisata dengan masyarakat sebagai penerima manfaat utama.

Bupati menegaskan, Serayu tidak dapat dipandang secara sektoral maupun administratif semata. Serayu harus dilihat sebagai satu kesatuan ruang kehidupan dari hulu hingga hilir.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengusulkan pengembangan pilot project SAEEC di Desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo, dengan pendekatan Food-Energy-Water (FEW) Nexus yang selanjutnya dapat diperkuat dengan pendekatan Water-Energy-Food-Ecosystem (WEFE) Nexus.

Pendekatan tersebut menempatkan air, energi, pangan, dan ekosistem sebagai bagian yang saling terhubung. Potensi aliran Sungai Serayu, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi bersih melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), yang kemudian mendukung peningkatan produktivitas pertanian, pengolahan hasil pertanian, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kita ingin membangun satu ekosistem di mana air menghasilkan energi, energi menguatkan pangan, pangan menggerakkan ekonomi, dan semuanya tetap menjaga ekosistem,” jelas Afif.

Pemanfaatan energi tersebut juga diarahkan untuk mendukung berbagai aktivitas masyarakat, antara lain penguatan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), rantai pasok pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan wisata rafting melalui transportasi listrik, hingga pengolahan sampah di tingkat desa.

Dengan demikian, pengembangan SAEEC tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan energi, tetapi juga membangun ekonomi sirkular yang menghubungkan energi, pangan, pariwisata, dan pengelolaan lingkungan.

Baca Juga:  Peserta Didik Sespimmen Polri Belajar Kepemimpinan Strategis di Demak

Pengembangan tersebut, lanjut Afif, sejalan dengan posisi Wonosobo dalam Kawasan Swasembada Pangan, Air dan Energi (KSPAE) Dieng-Serayu-Bogowonto sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2025–2029.

Posisi tersebut, dinilai menjadi peluang strategis untuk membuktikan bahwa potensi Wonosobo dapat dikembangkan menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.

Dalam skala yang lebih luas, penguatan Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu juga membutuhkan kerja lintas wilayah dan lintas pemerintahan. Wonosobo dan Banjarnegara berada di kawasan hulu, sementara keberlanjutan Serayu memberikan dampak hingga Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.

Karena itu, pengembangan DAS Serayu perlu ditempatkan sebagai kepentingan bersama, termasuk dalam menjaga keberlanjutan Waduk Jenderal Sudirman (Mrica) yang saat ini menghadapi persoalan sedimentasi.

Melalui forum ini, diharapkan dapat memperkuat arah kebijakan nasional sehingga gagasan pengembangan DAS Serayu sebagai PSN dapat dikaji dan didorong lebih lanjut, termasuk melalui dukungan kebijakan dan skema pembiayaan yang sesuai dengan skala kepentingannya.

Selain Serayu, Bupati Afif juga menyoroti keterkaitan pengembangan kawasan dengan Dieng. Menurutnya, Dieng memiliki posisi strategis dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya energi panas bumi yang dikembangkan oleh PT Geo Dipa Energi.

Pengembangan panas bumi tidak hanya berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan manfaat bagi daerah melalui penerimaan bonus produksi serta berbagai program pengembangan masyarakat dan tanggung jawab sosial perusahaan.

Pada saat yang sama, Dieng memiliki kekayaan geologi, budaya, dan biodiversitas yang menjadi modal penting bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Untuk itu, perlunya dukungan Bappenas dalam penguatan Geopark Nasional Dieng serta persiapan pengusulan menuju UNESCO Global Geopark, sejalan dengan posisi Wonosobo dalam kawasan pariwisata dan ekonomi kreatif Borobudur–Dataran Tinggi Dieng.

“Yang ingin kita bangun pada akhirnya sederhana: bagaimana potensi Serayu dan Dieng dapat memberi nilai tambah sebesar-besarnya bagi masyarakat, sekaligus tetap menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan kita,”pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Sumber Daya Energi Mineral dan Pertambangan Kementerian PPN/Bappenas, Togu Santoso Pardede,  menyampaikan apresiasi terhadap potensi yang dimiliki Wonosobo.

Menurut Togu, Wonosobo memiliki kombinasi potensi yang relatif lengkap, mulai dari warisan geologi, budaya, biodiversitas, energi panas bumi, energi air, pertanian, hingga pariwisata.

Baca Juga:  88 Siswa MAN 2 Rembang Alami Gejala Diare, Sekolah Terapkan Pembelajaran Daring

“Wonosobo ini memiliki potensi besar. Dari sisi geopark, memiliki warisan alam yang luar biasa, warisan budaya, dan warisan biodiversitas, sehingga sudah ditetapkan sebagai geopark nasional,” ujarnya.

Togu juga menyampaikan harapan agar pengembangan Geopark Nasional Dieng dapat terus dipersiapkan menuju pengusulan sebagai UNESCO Global Geopark.

Dalam pandangannya, potensi Wonosobo tidak berhenti pada kekayaan geopark. Setelah sebelumnya dikenal memiliki potensi panas bumi, kawasan Serayu juga menunjukkan potensi sumber energi air yang dapat dikembangkan.

Togu menilai potensi tersebut tidak dapat dikembangkan secara sendiri-sendiri. Pertanian, pariwisata, dan energi harus ditempatkan dalam satu ekosistem pembangunan.

“Pertanian tidak bisa berjalan sendiri, pariwisata tidak bisa berjalan sendiri, energi tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu, tepat menggunakan pendekatan nexus,” jelasnya.

Menurut Togu, karakter kawasan Wonosobo dan Serayu sangat sesuai dengan pendekatan FEW Nexus, yang mengintegrasikan pangan, energi, dan air. Pendekatan tersebut dapat dikembangkan lebih jauh dengan memasukkan aspek ekosistem sehingga menjadi WEFE Nexus.

Bappenas melihat pendekatan tersebut memiliki peluang untuk menjadikan Wonosobo sebagai salah satu contoh pengembangan kawasan yang mengintegrasikan berbagai sektor berbasis potensi lokal.

Terkait SAEEC, Togu menilai gagasan Serayu Agro Energy Edutourism Corridor menarik karena memiliki keterhubungan antara pertanian, energi, pariwisata, dan potensi sumber daya alam.

Ia melihat pilot project yang dikembangkan di Wonosobo dapat menjadi titik awal untuk membangun model yang kemudian dapat direplikasi di wilayah lain sepanjang koridor Serayu.

“Dari sumber potensi alam bisa menjadi energi. Energi ini bisa menjadi produktivitas. Produktivitas memberi nilai tambah, dan dari nilai tambah tentunya kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Lebih jauh, Bappenas mendorong agar gagasan SAEEC tidak berhenti pada konsep, tetapi segera diterjemahkan menjadi pipeline proyek yang lengkap dan layak untuk dikembangkan.

Togu menyampaikan bahwa proses selanjutnya perlu diarahkan pada pemetaan proyek secara lebih konkret, termasuk komponen kegiatan, kelayakan, kebutuhan investasi, serta sumber pembiayaannya.

Bappenas, lanjut Togu, siap membantu mengorkestrasi sinergi lintas sektor, baik dari sisi program maupun pembiayaan.

Skema pembiayaan tersebut nantinya dapat dipetakan sesuai karakter masing-masing proyek, antara lain melalui ruang APBN, program pemerintah provinsi dan pemerintah daerah, BUMN, sektor swasta, maupun sumber pendanaan lainnya yang memungkinkan.

Baca Juga:  Kepala Rutan Berganti, Pemkab Rembang Tegaskan Komitmen Lanjutkan Kolaborasi Pembinaan Warga Binaan

“Kita akan melihat mana yang menjadi ruang APBN, ruang pemerintah provinsi, pemerintah daerah, BUMN, swasta, maupun sumber pendanaan lainnya,” kata Togu.

Menurutnya, pemetaan tersebut penting agar pengembangan SAEEC memiliki fondasi pembiayaan yang realistis dan dapat dilaksanakan secara bertahap.

Bappenas juga menegaskan keterbukaannya untuk membangun kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, sehingga gagasan pengembangan kawasan Serayu dapat diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Dengan pendekatan berbasis nexus, SAEEC diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proyek pembangunan kawasan, tetapi dapat berkembang sebagai model bagaimana potensi air, energi, pangan, ekosistem, pendidikan, dan pariwisata diintegrasikan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Dari Wonosobo, gagasan tersebut diarahkan untuk bergerak dari potensi menjadi proyek, dari proyek menjadi investasi, dan dari investasi menjadi manfaat nyata bagi masyarakat sepanjang koridor Serayu.

Kepala Bappeda Wonosobo Tono Prihantono menambahkan, konsep SAIK ini diharapkan menjadi sebuah model kolaborasi lintas sektor yang mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki Wonosobo, khususnya dalam pemanfaatan energi terbarukan. Menurutnya, ketersediaan energi yang lebih murah dan berkelanjutan dapat menjadi pengungkit bagi berbagai sektor lain, mulai dari pertanian, ketahanan pangan, UMKM, hingga pariwisata.

Ia menjelaskan, pengembangan energi mikrohidro tidak berhenti pada penyediaan sumber listrik semata, tetapi bagaimana energi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Misalnya melalui pengembangan cold storage untuk menjaga kualitas hasil pertanian, fasilitas pengeringan hasil produksi, maupun berbagai kegiatan produktif lainnya yang selama ini membutuhkan biaya energi cukup besar.

Tono menambahkan, posisi Wonosobo sebagai wilayah hulu Daerah Aliran Sungai Serayu juga menjadi salah satu potensi strategis yang ingin dikembangkan melalui konsep tersebut. Jika dapat direalisasikan dengan baik, SAIK diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat di lokasi pilot project, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas bagi wilayah-wilayah yang berada di sepanjang aliran Serayu.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Wonosobo menyambut positif keterlibatan Bappenas dalam melihat langsung potensi dan calon lokasi pengembangan SAIK. Kehadiran pemerintah pusat diharapkan dapat memperkuat sinkronisasi program sekaligus membuka peluang skema pembiayaan yang lebih inovatif, mengingat pengembangan kawasan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Follow WhatsApp Channel pilarjateng.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tawuran Pelajar di Demak Berujung Maut, Empat Anak Diamankan
Polres Demak dan Wartawan Salurkan Air Bersih ke Ponpes Giri Kesumo
HAORNAS 2026, Bupati Wonosobo Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga sebagai Gaya Hidup
Tim Gabungan Wonosobo Amankan 2.188 Batang Rokok Ilegal
Pemkab Wonosobo Salurkan 20 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga
OJK: Perbankan Tetap Optimis, Kinerja dan Risiko Terjaga di Triwulan III 2026
Waka BGN Ancam Tutup Permanen SPPG Tak Layak di Rembang
Pelajar di Demak Tewas Akibat Luka Tusuk, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 11:16 WIB

Bappenas Dorong Pengembangan SAEEC dan DAS Serayu, Wonosobo Siapkan Proyek Terpadu Berbasis Energi, Pangan, Air, dan Pariwisata

Jumat, 11 September 2026 - 18:52 WIB

Tawuran Pelajar di Demak Berujung Maut, Empat Anak Diamankan

Jumat, 11 September 2026 - 18:32 WIB

Polres Demak dan Wartawan Salurkan Air Bersih ke Ponpes Giri Kesumo

Jumat, 11 September 2026 - 16:40 WIB

HAORNAS 2026, Bupati Wonosobo Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga sebagai Gaya Hidup

Jumat, 11 September 2026 - 09:54 WIB

Tim Gabungan Wonosobo Amankan 2.188 Batang Rokok Ilegal

Berita Terbaru

Tim Gabungan kembali menggelar operasi rokok ilegal di Kabupaten Wonosobo pada Kamis (10/9/2026).

Daerah

Tim Gabungan Wonosobo Amankan 2.188 Batang Rokok Ilegal

Jumat, 11 Sep 2026 - 09:54 WIB