Generasi ke-7 Pandai Besi Dusun Dalangan Wonosobo Tetap Bertahan

Avatar photo

- Reporter

Rabu, 20 Mei 2026 - 18:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktifitas pandai besi warga Dusun Dalangan, Desa Purwojati, Kertek, Wonosobo.

Aktifitas pandai besi warga Dusun Dalangan, Desa Purwojati, Kertek, Wonosobo.

Pilarjateng.com, Woosobo – Dibalut asap tipis yang mengepul dari tungku pembakaran berbahan arang, sayup-sayup terdengar dentingan besi bertalu-talu dari para pengrajin yang tengah menempa besi panas, untuk membuat sabit dan berbagai alat pertanian lainnya.

Sebagai sentra pengrajin pandai besi, warga Dusun Dalangan, Desa Purwojati, Kertek, Wonosobo, seolah tak ada kata menyerah di tengah gempuran modernisasi dan menurunnya minat generasi muda terhadap pekerjaan tradisional ini. Dimana, saat ini ada sekitar 125 titik industri rumahan pengrajin pandai besi yang tetap bertahan menjaga warisan leluhur, yang berdiri sejak tahun 1850-an.

Kepala Desa Purwojati, Nuruddin Ma’ruf, Selasa, (19/5/2026), kepada media mengatakan, profesi pandai besi telah menjadi identitas masyarakat Dusun Dalangan sejak desa tersebut berdiri. Dengan jumlah penduduk sekitar 4.500 jiwa atau 1.412 kepala keluarga, sekitar 30 persen warga bekerja sebagai pengrajin besi.

“Sejak berdirinya desa kami, masyarakat Dusun Dalangan sudah berkecimpung di kegiatan pandai besi. Ini dilakukan turun-temurun sampai hari ini,” kata Nuruddin.

Baca Juga:  Polres Demak Amankan 470 Botol Miras Siap Edar

Aktivitas produksi biasanya dimulai  pukul 06.00 sampai11.00 WIB. dengan menggunakan arang sebagai media pembakarannya.

“Selama ini para pengrajin masih bergantung pada arang sebagai bahan bakar utama karena dinilai menghasilkan panas terbaik untuk melebur besi dan baja,” ujarnya.

Percobaan menggunakan batu bara pernah dilakukan, namun hasilnya dinilai belum maksimal. Karena itu, para pengrajin berharap ada inovasi teknologi pembakaran menggunakan gas atau listrik dengan biaya operasional yang tetap terjangkau.

Menurutnya, kualitas produk pandai besi Dalangan berbeda dengan yang lain, yaitu dengan teknik memadukan antara bahan besi dan tembaga agar kuat dan tajam.

“Besi itu sifatnya lunak, baja sifatnya keras. Dua elemen itu dilebur jadi satu supaya hasilnya lebih tajam dan tahan lama,” pungkasnya.

Baca Juga:  Ragam Kuliner Khas Hadir di Pameran Hari Jadi ke-81 Jateng, dari Nasi Gandul hingga Tumpang Koyor

Ketua Kelompok Pengrajin Pandai Besi Dusun Dalangan, Damianto menambahkan, para pengrajin kini menghadapi tantangan yang semakin berat, terutama terkait bahan baku dan regenerasi tenaga kerja.

Menurutnya, harga arang yang terus naik menjadi salah satu persoalan utama dalam produksi. Meski begitu, para pengrajin memilih tetap bertahan demi menjaga mata pencaharian keluarga.

“Kalau harga dinaikkan terus pasar tidak mau menerima, itu juga jadi kesulitan bagi kami. Jadi sebisa mungkin kami bertahan,” ucapnya.

Selain itu, menurunnya minat generasi muda terhadap profesi pandai besi juga mulai dirasakan. Permintaan pasar alat pertanian tradisional pun perlahan berkurang seiring perubahan pola masyarakat.

“Sekarang anak muda lebih memilih pekerjaan lain. Padahal ini warisan leluhur dan menjadi sumber penghidupan warga,” tambahnya.

Meski masih mempertahankan cara tradisional, para pengrajin mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Jika dahulu proses pembakaran menggunakan pompa manual dan penempaan dilakukan sepenuhnya dengan tenaga manusia, kini sebagian pengrajin memakai blower dan mesin tempa sederhana.

Baca Juga:  P4N Lemhannas RI Kaji Ketahanan Energi Wonosobo

Perubahan juga terlihat dalam pola pemasaran. Selain dijual melalui pasar tradisional dan tengkulak, produk pandai besi Dalangan kini mulai dipasarkan secara online.

“Beberapa pengrajin sudah memanfaatkan media sosial untuk pemasaran, bahkan ada yang sambil live TikTok untuk menawarkan produk,” kata Damianto.

Pemasaran online dinilai membantu memperluas jangkauan penjualan hingga luar provinsi dan luar pulau.

Di balik ketangguhan para pengrajin, pemerintah desa berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah hingga pusat, terutama terkait teknologi produksi yang lebih efisien.

Bagi masyarakat Dusun Dalangan, dentingan besi bukan sekadar suara pekerjaan. Bara api yang menyala setiap pagi adalah simbol perjuangan mempertahankan tradisi, ekonomi keluarga, sekaligus warisan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun.

Follow WhatsApp Channel pilarjateng.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bappenas Dorong Pengembangan SAEEC dan DAS Serayu, Wonosobo Siapkan Proyek Terpadu Berbasis Energi, Pangan, Air, dan Pariwisata
Tawuran Pelajar di Demak Berujung Maut, Empat Anak Diamankan
Polres Demak dan Wartawan Salurkan Air Bersih ke Ponpes Giri Kesumo
HAORNAS 2026, Bupati Wonosobo Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga sebagai Gaya Hidup
Tim Gabungan Wonosobo Amankan 2.188 Batang Rokok Ilegal
Pemkab Wonosobo Salurkan 20 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga
OJK: Perbankan Tetap Optimis, Kinerja dan Risiko Terjaga di Triwulan III 2026
Waka BGN Ancam Tutup Permanen SPPG Tak Layak di Rembang

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 11:16 WIB

Bappenas Dorong Pengembangan SAEEC dan DAS Serayu, Wonosobo Siapkan Proyek Terpadu Berbasis Energi, Pangan, Air, dan Pariwisata

Jumat, 11 September 2026 - 18:52 WIB

Tawuran Pelajar di Demak Berujung Maut, Empat Anak Diamankan

Jumat, 11 September 2026 - 18:32 WIB

Polres Demak dan Wartawan Salurkan Air Bersih ke Ponpes Giri Kesumo

Jumat, 11 September 2026 - 16:40 WIB

HAORNAS 2026, Bupati Wonosobo Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga sebagai Gaya Hidup

Jumat, 11 September 2026 - 09:54 WIB

Tim Gabungan Wonosobo Amankan 2.188 Batang Rokok Ilegal

Berita Terbaru

Tim Gabungan kembali menggelar operasi rokok ilegal di Kabupaten Wonosobo pada Kamis (10/9/2026).

Daerah

Tim Gabungan Wonosobo Amankan 2.188 Batang Rokok Ilegal

Jumat, 11 Sep 2026 - 09:54 WIB