Perang Obor, Tradisi yang Terus Menyala di Jepara

Avatar photo

- Reporter

Selasa, 26 Mei 2026 - 08:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelaksanaan Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, pada Senin (25/5/2026) malam.

Pelaksanaan Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, pada Senin (25/5/2026) malam.

Pilarjateng.com, Jepara — Di tengah pekat malam, bunga-bunga api berterbangan ke langit malam setelah obor dipukulkan dalam sebuah Tradisi Perang Obor, di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, pada Senin (25/5/2026) malam.

Perang obor itu merupakan rangkaian agenda tahunan, agar warga desa selalu dilimpahi berkah dan harapan baik. Ribuan warga dan wisatawan tampak tumplek blek menyaksikan ritual tahunan tersebut. Tak terkecuali, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin, dan Bupati Jepara, Witiarso Utomo, juga menyaksikan tradisi itu.

Perang Obor merupakan tradisi sedekah bumi dan ritual tolak bala yang digelar setiap Senin Pahing, malam Selasa Pon, setelah masa panen. Tradisi yang berkaitan dengan legenda Ki Gemblong serta Kyai Babadan itu, dipercaya sudah berlangsung sejak abad ke-16 atau era 1500-an.

Baca Juga:  Kapolres Demak: Pangkat Baru Bukan Sekadar Penghargaan, Melainkan Amanah

Dalam cerita rakyat setempat, Ki Gemblong yang bertugas menggembala ternak terlena mencari ikan hingga ternak milik Kyai Babadan sakit. Kyai Babadan kemudian memukul Ki Gemblong menggunakan obor. Namun, api obor justru dipercaya menyembuhkan ternak yang sakit. Dari situlah muncul keyakinan masyarakat, api obor menjadi simbol penolak bala dan keselamatan desa.

Wagub Jateng Taj Yasin mengatakan, Perang Obor bukan sekadar atraksi budaya, melainkan tradisi yang menyimpan pesan moral, sekaligus memiliki potensi besar sebagai wisata budaya unggulan.

“Dari sejarah Perang Obor ini ada pesan yang perlu diingat masyarakat, bahwa amanah harus benar-benar dijalankan,” katanya.

Menurut wagub, ritual tersebut pada hakikatnya merupakan bentuk doa masyarakat kepada Tuhan, agar dijauhkan dari musibah dan diberi keselamatan.

Baca Juga:  Polda Jateng Pastikan Personel Mahir dan Taat Gunakan Senjata Api

“Ini bentuk doa agar masyarakat diangkat dari bala dan diberi keselamatan,” lanjut Taj Yasin.

Dia menilai, event budaya seperti Perang Obor mampu menggerakkan ekonomi warga, sekaligus memperkenalkan identitas lokal Jepara kepada masyarakat luas. Terbukti, antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak sore hari. Banyak pengunjung datang dari luar daerah, untuk menyaksikan langsung tradisi khas Jepara tersebut.

Salah seorang pengunjung, Jatus, mengaku sengaja datang bersama keluarganya dari daetah Batealit Jepara untuk menikmati kemeriahan Perang Obor.

“Sudah dua kali nonton. Tahun ini lebih seru,” ujarnya.

Jatus mengatakan, meski cuaca sempat diguyur hujan, masyarakat tetap bertahan memenuhi lokasi acara. Dia berharap, tradisi tersebut ke depan semakin ramai dan terus dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Jepara.

Baca Juga:  Jateng Boyong Enam Penghargaan Adinata Syariah 2026

Di sisi lain, Perang Obor juga menjadi bagian hidup masyarakat Tegalsambi, yang terlibat langsung sebagai pelaku tradisi. Salah satunya Petruk, warga yang sudah mengikuti Perang Obor sejak 2000, atau sekitar 26 tahun terakhir.

“Saya ikut Perang Obor mulai tahun 2000,” terangnya.

Tak hanya dirinya, tradisi tersebut kini juga diteruskan anaknya sebagai generasi penerus keluarga.

“Anak saya juga ikut. Ini tradisi turun-temurun,” ungkap Petruk.

Dia berharap Perang Obor tetap lestari dan semakin dikenal luas, tanpa kehilangan nilai budaya yang diwariskan leluhur.

Sebagai informasi, Tradisi Perang Obor telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2020.

 

Follow WhatsApp Channel pilarjateng.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkab Rembang Luncurkan Elektronifikasi Transaksi Pemda Melalui Pembayaran Elektronik
Masa Kerja PPPK Pemkab Rembang Tahap 2 Diperpanjang
Cegah Penyakit, Masyarakat Harus Cerdas Memilih Obat
Sekda Jateng Tegaskan Pentingnya Kualitas Pengasuhan dan Pendidikan Anak
Pisowanan Agung, Merawat Warisan Leluhur Menyatukan Langkah Menuju Wonosobo Loh Jinawi
OJK Panggil Kredivo dan KrediFazz Terkait Dugaan Pelanggaran Etika Penagihan
Jateng dan Fujian Tiongkok Teken Dua Kesepakatan Strategis
Razia Gabungan di Sulang, Petugas Sita 25.200 Batang Rokok Ilegal

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 21:44 WIB

Pemkab Rembang Luncurkan Elektronifikasi Transaksi Pemda Melalui Pembayaran Elektronik

Senin, 27 Juli 2026 - 21:25 WIB

Masa Kerja PPPK Pemkab Rembang Tahap 2 Diperpanjang

Sabtu, 25 Juli 2026 - 23:02 WIB

Cegah Penyakit, Masyarakat Harus Cerdas Memilih Obat

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:51 WIB

Sekda Jateng Tegaskan Pentingnya Kualitas Pengasuhan dan Pendidikan Anak

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:29 WIB

Pisowanan Agung, Merawat Warisan Leluhur Menyatukan Langkah Menuju Wonosobo Loh Jinawi

Berita Terbaru

Bupati Rembang, Harno menjadi pembina upacara peringatan Hari Jadi ke-285 Kabupaten Rembang di Alun-Alun Rembang, Senin (27/7).

Daerah

Masa Kerja PPPK Pemkab Rembang Tahap 2 Diperpanjang

Senin, 27 Jul 2026 - 21:25 WIB

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mengingatkan masyarakat agCegah Penyakit, Masyarakat Harus Cerdas Memilih Obatar lebih cerdas dalam memilih obat.

Daerah

Cegah Penyakit, Masyarakat Harus Cerdas Memilih Obat

Sabtu, 25 Jul 2026 - 23:02 WIB