Pilarjateng.com, Semarang – Sektor jasa keuangan di Jawa Tengah hingga Maret 2026 tetap stabil dengan pertumbuhan kredit yang positif. Namun, tantangan kualitas kredit, khususnya pada sektor UMKM, masih menjadi perhatian utama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal tersebut dikemukakan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah dan DIY, Hidayat Prabowo kepada wartawan, Kamis (9/4).
Meskipun stabil, menurutnya, perhatian terhadap kualitas kredit, khususnya pada sektor UMKM, masih menjadi prioritas utama.
“Pertumbuhan kredit tercatat positif, yakni sekitar 9 persen, dengan kondisi likuiditas perbankan yang masih memadai.Jadi secara umum stabil, pertumbuhan kredit juga masih baik, dan likuiditas cukup,” ujar Hidayat.
Menurutnya, struktur ekonomi Jawa Tengah yang didominasi oleh UMKM membuat sektor ini sangat berpengaruh terhadap kinerja perbankan, khususnya dalam menjaga kualitas kredit.
“Karena ketergantungan terhadap UMKM cukup tinggi, maka kondisi bisnis UMKM sangat berdampak terhadap kualitas kredit perbankan,” jelasnya.
Untuk itu, pada 2026, OJK Jateng-DIY menyiapkan strategi khusus guna menekan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
Langkah tersebut difokuskan pada pengendalian NPL agar tidak meningkat, sekaligus memperbaiki kredit bermasalah yang sudah ada secara bertahap.
Hidayat menyebut, secara umum rasio NPL di Jawa Tengah masih berada di bawah 5 persen. Namun, pada segmen tertentu seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR), angka tersebut masih relatif lebih tinggi dan menjadi perhatian.
Ia juga mengakui bahwa dampak pandemi COVID-19 masih terasa, terutama bagi pelaku UMKM. Program restrukturisasi kredit yang telah berjalan dinilai belum sepenuhnya mampu memulihkan kondisi sektor tersebut.
Selain penguatan sektor perbankan, OJK juga mendorong pengembangan pasar modal sebagai alternatif sumber pembiayaan bagi dunia usaha di daerah.
“Pasar modal bisa menjadi salah satu alternatif pembiayaan selain perbankan,” ungkap Hidayat.
Sementara itu dari sisi investor, Hidayat menjelaskan, bahwa minat masyarakat terhadap pasar modal terus menunjukkan peningkatan, terutama dari kalangan generasi muda. Instrumen seperti reksa dana dinilai menjadi pilihan awal yang tepat bagi investor pemula karena dikelola oleh manajer investasi yang diawasi OJK.









